Bagian Operasi

Polres Karawang

Terbukti Jenazah di Temanggung Bukan Noordin M Top Tapi Ibrahim

Posted by yukirenemal pada Agustus 13, 2009

Jakarta–Polri Irjen Pol Nanan Soekarna Kepala Divisi Humas menyatakan, jenazah tersangka teroris yang tewas saat penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah, adalah Ibrohim alias Boim (37), bukan Noordin M Top, buronan berbagai kasus terosime selama sembilan tahun terakhir ini.

Pernyataan itu disampaikan Nanan Soekarna dalam jumpa pers di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu, bersama dengan Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri (Pusdokkes) Brigjen Pol Edy Saparwoko.

Nanan menegaskan, Polri selama ini tidak pernah menyebutkan identitas jenazah itu, sebelum mendapatkan data yang pasti.

“Ibrohim memiliki peran yang sangat dominan dalam ledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton, Mega Kuningan,” katanya.

Menurut Nanan, peran Ibrohim itu antara lain melakukan survei, memasukkan bom ke dalam hotel dan menyimpan bom di kamar 1808 Hotel Marriott.

Sementara itu, Kapusdokkes Brigjen Pol Edy Saparwoko mengatakan, Polri telah melakukan uji DNA jenazah di Temanggung dengan sampel keluarga yang diambil dari keluarga Noordin M Top di Johor Baru, Malaysia, dan sampel dari keluarga lain yang ada di Cilacap dan Klaten, namun hasilnya tidak identik.

Menurut dia, untuk mengetahui identitas Ibrohim, Polri telah melakukan uji DNA dengan kedua anak Ibrohim, satu laki-laki dan satu perempuan, dan hasilnya ternyata identik seratus persen.

Sementara itu, terkait dengan peran Ibrohim yang bekerja sebagai penata bunga di Hotel JW Marriott, Kadiv Humas Polri Irjen Po Nanan Soekarna mengatakan, pada 8 Juli 2009 Ibrohim melakukan survei lokasi bersama dengan tersangka lain yakni Nana Ichwan Maulana, selaku pelaku bom bunuh diri, dan pada 16 Juli Ibrohim memasukkan bom ke dalam hotel.

Nanan Soekarna menjelaskan, bom itu diangkut dengan mobil boks yang biasa dipakai untuk mengangkut barang ke hotel itu dan diturunkan di tempat penurunan barang di belakang hotel. Agar tidak dicurigai, Ibrohim mengangkut sendiri bom yang dibungkus dalam kardus dari atas mobil ke kamar 1808 Hotel Marriott.

“Jadi pada tanggal 17 Juli, ketika tersangka pelaku bom bunuh diri Dani Dwi Permana melewati pintu pemeriksaan di depan dan tertangkap kamera, ia memang tidak membawa apa-apa, sehingga tidak ada kelalaian dari penjaga yang berada di depan hotel,” kata Nanan.

Namun, lanjutnya, justru ada kelemahan pengamanan di tempat penurunan barang sehingga hal ini menjadi perhatian para pengelola hotel.

Dalam kasus ledakan bom Mega Kuningan, Polri telah menahan tiga tersangka lain yakni Aris dan Hendra, warga Temanggung yang berperan sebagai kurir dan menyembunyikan Noordin M Top maupun Ibrohim, serta Amir Abdilah yang tertangkap di Jakarta Utara, berperan sebagai penyedia rumah dan ikut merencanakan peledakan bom di Jati Asih.

Sedangkan tersangka yang tewas yakni Air Setiawan dan Eko Djoko, warga Solo, tertembak di Jati Asih. Keduanya ikut berperan membantu perakitan bom.

Dua pelaku bom bunuh diri yang tewas di lokasi ledakan bom Dani Permana warga perumahan Telaga Kahuripan, Bogor, sebagai pelaku bom bunuh diri Hotel Marriott. Sedangkan Nana Ichwan Maulana, warga Pandeglang, Banten, sebagai pelaku bom bunuh diri di Hotel Ritz-Carlton.

Nanan mengatakan bahwa Yayan yang ditangkap di Jakarta Utara tidak terlibat dalam ledakan bom Mega Kuningan itu, tetapi telah direkrut sebagai pelaku bom bunuh diri untuk aksi berikutnya.

Sedangkan Muhjahri, pemilik rumah di Temanggung, diserahkan ke Polda Jawa Tengah untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Menurut Nanan, Noordin M Top dalam peristiwa ledakan bom itu adalah aktor utama kendati tidak terlibat langsung di lapangan karena dia yang merencanakan dan memotivasi tersangka lain untuk beraksi.

“Selain itu, masih ada tiga tersangka lain yang masih buron,” kata Nanan tanpa menyebut identitas buronan yang dimaksud.

Tes DNA Membuktikan Bukan Nurdin M Top Tapi Ibrahim

Jakarta–Padi tadi jam 9.10 wib polisi mengumumkan hasil tes DNA jenazah misterius dari orang yang tewas saat penyergapan di Temanggung, Jawa Tengah. Dan hasilnya sama seperti dugaan para pengamat inteljen bahwa mayat tersebut bukan Noordin M Top. Setelah hasil tes DNA dicocokkan dengan DNA keluarga Noordin dari Malaysia, ternyata tidak sesuai, kemudian polisi mencocokkan hasil tes DNA dengan istri dan anak Ibrahim, dan ternyata hasilnya match 100%, dan polisi akhirnya menyimpulkan bahwa mayat tersebut adalah Ibrahim, atau Ba’im seorang florist di hotel JW Marriott. Ibrahim juga diduga terlibat dalam kasus peledakan bom di Marriot dan Ritz Carlton.

Dengan hasil tes DNA ini berarti Noordin M Top masih berkeliaran. Noordin M Top memang terkenal sebagai seorang yang licin seperti belut. Selama tujuh tahun polisi melakukan pengejaran, Noordin M Top sudah dua kali berhadapan dengan polisi, salah satunya adalah ketika densus 88 menyergap teroris di Batu, Malang. Penyergapan itu menewaskan kawan dekat Noordin M Top, Dr. Azhari, sementara Noordin M Top berhasil melososkan diri dengan luka tembak. Noordin M Top juga pernah terendus polisi berada di daerah Wonosobo, namun lagi-lagi ketika penyergapan, Noordin berhasil meloloskan diri. Setelah itu Noordin M Top diduga menikahi seorang wanita di Cilacap dan mempunyai dua anak.

Banyak orang berspekulasi bahwa penyergapan di Temanggung beberapa hari yang lalu ada Noordin M Top di dalam rumah tersebut. Namun ternyata hanya ada satu jenazah yang ditemukan, dan setelah diidentifikasi, mayat tersebut bukan Noordin M Top, Tapi Ibrahim. Masyarakat kembali harus kecewa. Gembong teroris Noordin M Top masih misterius keberadaannya. Sedemikiankah cerdaskah Noordin M Top sehingga polisi sampai saat ini berlum berhasil menangkapnya?

Polisi tidak bisa bekerja sendiri, masyarakat harus aktif berperan serta dalam pemberantasan teroris. Masyarakat diharapkan segera lapor ke pihak yang berwajib, jika mereka melihat ada hal atau aktifitas yang mencurigakan di lingkungannya. Pengamat intelegen juga mengatakan, salah satu cara untuk menangkap Noordin M Top adalah dengan menguras kolam tempat belut Noordin hidup. Pemberantasa teroris adalah salah satu cara untuk mengembalikan jati diri bangsa.

Ketua DVI: “Mr X” Bukan Noordin M Top

Jakarta–Ketua Disaster Victim Identification (DVI, identifikasi korban kecelakaan) Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Brigadir Jendral Eddy Saparwoko, Rabu, mengonfirmasikan bahwa jenazah tersangka teroris “Mr. X” yang tewas dalam pengepungan di Temanggung, Jawa Tengah, bukan Noordin M. Top.

“Jenazah yang kita dapatkan di TKP di Temanggung adalah Ibrohim,” kata Eddy Saparwoko kepada wartawan dalam jumpa pers di RS Polri dr. Soekanto, Kramatjati, Jakarta Timur.

Eddy menjelaskan panjang lebar mengenai proses identifikasi mayat yang disebutnya ditempuh melalui dua metode, yaitu metode primer dan metode sekunder.

Metode primer ditempuh melalui identifikasi sidik jari, data rekaman gigi, dan tes DNA, yang jika salah satunya memenuhi maka dipastikan cocok dengan identitas mayat.

Sedangkan metode sekunder ditempuh jika tidak ada data primer dan dilakukan melalui pencocokan data sekunder seperti kepemilikan dan jejak lain seperti pakaian, dompet dan sejenisnya yang dimiliki orang yang sudah menjadi mayat.

Berdasarkan metode-metode itu, ternyata identitas Mr. X lebih cocok dengan Ibrahim, ketimbang Noordin M. Top yang selama ini disebut luas oleh media massa.

Sementara Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri Inspektur Jendral Polisi Nanan Sukarna, menyatakan polisi telah menangkap dan menahan 8 tersangka pelaku Bom Mega Kuningan, sedangkan 4-5 lainnya dinyatakan buron.

Kedelapan orang teroris yang berhasil ditangani polisi adalah Amir Abdullah, Dani Dwi Permana pelaku bom bunuh di Hotel JW Marriot, Nana pelaku bom bunuh diri di Ritz Carlton, kemudian Ibrohim, Air Setiawan, Eko Sujono, Aris Sutanto, dan Hendra atau Indra.

Pada 8 Agustus 2009, polisi dari Detasemen Khusus 88 Antiteror, mengakhiri 17 jam pengepungan sebuah rumah di Desa Beji, Temanggung, Jawa Tengah, yang disangka sebagai tempat persembunyian teroris paling dicari Indonesia, Noordin M. Top.

Dalam operasi anti teror itu, Densus 88 menewaskan orang yang diduga Noordin M. Top, yang kemudian mendatangkan kritik sejumlah kalangan karena polisi tidak memanfaatkan peluang untuk menangkap hidup-hidup tersangka teroris itu kendati posisi orang itu terpojok dan sendirian.

Keluarga Sudah Ambil Jenazah Dani

Jakarta–Jenazah Dani Dwi Permana, pelaku bom bunuh diri di Hotel JW Marriott, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, 17 Juli lalu, diambil keluarganya dari RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu.

Keluarga Dani tiba di RS Polri, sekitar pukul 07:30 WIB untuk mengambil jenazah Dani yang ditemukan di lokasi ledakan bom di Hotel JW Marriott dalam keadaan tidak utuh, hanya berupa potongan kepala.

Pengambilan jenazah Dani mendapat pengawalan ketat polisi selama menuju kediaman Keluarga Dani di Perumahan Telaga Kahuripan, Bogor, yang menggunakan mobil jenazah Polri dan dikawal mobil Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.

Sementara itu, keluarga Eko Joko Sarjono alias Eko Peang dan Air Setiawan, dua teroris yang tewas tertembak di Jati Asih, Bekasi, dikabarkan telah berangkat dari Solo, Jawa Tengah menuju RS Polri untuk mengambil jenazah keduanya.

Menurut kuasa hukum keluarga Eko dan Air, keluarga telah berangkat dari Solo sekitar pukul 10:00 WIB. Namun, katanya, keluarga belum mendapat hasil tes DNA terhadap kedua jenazah yang tewas ditembak personel Densus 88 di wilayah Jati Asih, Bekasi itu.

Sementara itu, ruang Instalasi Kedokteran Forensik RS Polri, Kramat Jati, sejak Rabu pagi dijaga ketat oleh aparat kepolisian, menyusul pengumuman identitas teroris yang ditembak di sebuah rumah di Dusun Beji, Temanggung, Jawa Tengah.

Polri telah mengumumkan bahwa jenazah teroris yang tewas dalam penyergapan di Temanggung bukan gembong teroris asal Malaysia, Noordin M Top, melainkan Ibrohim, tersangka teroris yang memiliki peran dominan dalam peledakan bom di Mega Kuningan, 17 Juli lalu.

Kepala Desk Anti Teror Menkopolkam:

Penanganan Terorisme akan Dievaluasi

Jakarta– Kepala Desk Antiteror Kementerian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Irjen Pol (Purn) Ansyaad Mbai mengatakan, pola antisipasi dan penanganan terorisme akan dievaluasi secara berjenjang dan menyeluruh pasca operasi penyergapan beberapa sarang teroris pekan lalu.

“Kita harus dan akan evaluasi seluruh pola antisipasi dan penanganan terorisme baik secara soft power maupun hard power di setiap tingkatan instansi terkait dan lapisan masyarakat,” katanya ketika dikonfirmasi ANTARA News di Jakarta, Rabu.

Ansyaad mengatakan, pola penanganan terorisme baik secara soft power maupun hard power sudah berjalan baik dan simultan.

“Kedua pola penanganan terorisme itu baik soft power maupun hard power harus berjalan bersamaan, tidak bisa salah satu berjalan sendiri. Pemantapan ini yang akan dilakukan ke depan, dalam memaksimalkan upaya pemberantasan terorisme,” tutur Ansyaad.

Pola soft power akan dilakukan berjenjang dari tingkat masyarakat agar lebih waspada dan proaktif mengantisipasi ancaman terorisme dan cara menghadapinya.

Pendekatan persuasif juga akan dilakukan melalui lembaga-lembaga keagamaan termasuk pondok pesantren untuk dapat memberikan pemahaman yang benar tentang agama, tentang jihad dan sebagainya kepada jemaah atau masyarakat umumnya, tutur Ansyaad.

Sementara pada pendekatan represif (hard power) maka diawali dengan memperbaiki kinerja intelijen baik di TNI maupun Polri agar mampu melakukan pendeteksian lebih dini terhadap ancaman terorisme.

“Karena berdasar data intelijen yang akurat itulah aparat dapat mengoptimalkan operasinya memberantas terorisme. Ya…sekarang sudah berjalan baik….tetapi akan harus lebih baik,” ujarnya.

Ansyaad mengatakan, terorisme tidak bisa ditangani dari satu aspek saja melainkan banyak aspek ekonomi, sosial dan budaya sehingga penanganannya juga harus komprehensif.

Tentang kapan evaluasi dilakukan, ia mengatakan, evaluasi secara rutin dilakukan, namun ke depan akan lebih diintensifkan di setiap jenjang.
Sumber : http://www.komisikepolisianindonesia.com/main.php?page=artikle&id=1196

Satu Tanggapan to “Terbukti Jenazah di Temanggung Bukan Noordin M Top Tapi Ibrahim”

  1. tulisan yang bermanfaat sy Agus Suhanto, nyampe di situs ini dari mbah google.Salam kenal ya… sorry numpang thread comment posting ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: